Setelah menonton The World of Kanako, aku menyadari bahwa perasaan hampa itu ternyata nyata. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Film itu membuatku berpikir tentang seseorang yang perlahan jatuh ke lubang kelinci—semakin jauh melangkah, semakin sulit menemukan jalan pulang.
Mungkin sekarang aku juga sedang berada di sana.
Ada perasaan yang selama ini kusimpan. Pada akhirnya aku memilih mengatakannya. Bukankah perasaan memang seharusnya diungkapkan? Dan jika penolakan adalah jawaban yang paling jujur, maka itu juga jawaban yang harus kuterima.
Lalu setelah itu aku bertanya,
“Kita masih berteman baik, kan?”
Seharusnya setelah hari itu aku mulai mengundurkan diri. Memberi jarak. Belajar menerima.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin aku berusaha melangkah pergi, semakin sering aku menoleh ke belakang. Semakin aku mencoba menerima kenyataan, semakin sering aku berharap sesuatu yang sudah jelas tidak akan berubah.
Dan anehnya, semakin aku menulis semua ini, hatiku justru semakin sakit.
–
Rian. k – 27 Juni 2026